Rabu, 26 September 2012

Jual Beli

BAB I
JUAL BELI
A.    Pengertian
Menurut etimologi, jual beli adalah pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain). Kata lain dari jual beli adalah al-ba’i, asy-syira’, al-mubadah, dan at-tijarah.
Menurut terminologi, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikannya, antara lain :
Ø  Menurut ulama Hanafiyah: [1])
Jual beli adalah ”pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang dibolehkan).”
Ø  Menurut Imam Nawawi[2]) dalam Al-Majmu’ :
Jual beli adalah ”pertukaran harta dengan harta untuk kepemilikan.”
Ø  Menurut Ibnu Qudamah[3]) dalam kitab Al-mugni ‘ :
Jual beli adalah ”pertukaran harta dengan harta, untuk saling menjadikan milik.”

Pengertian lainnya Jual beli ialah persetujuan saling mengikat antara penjual (yakni pihak yang menyerahkan/menjual barang) dan pembeli (sebagai pihak yang membayar/membeli barang yang dijual). Pada masa Rasullallah SAW harga barang itu dibayar dengan mata uang yang terbuat dari emas (dinar) dan mata uang yang terbuat dari perak (dirham).


B.    Landasan atau Dasar Hukum Jual Beli
Landasan atau dasar hukum mengenai jual beli ini di syariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Hadist Nabi, dan Ijma’ Yakni :
1.    Al Qur’an, yang mana Allah Swt berfirman dalam surat Al-Baqarah, 2: 198 :

2.    Sunnah Nabi, yang mengatakan:
Suatu ketika Nabi SAW, ditanya tentang mata pencarian yang paling baik. Beliau menjawab, ’Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual-beli yang mabrur.” (HR. Bajjar, Hakim yang menyahihkannya dari Rifa’ah Ibn Rafi’)
Maksud mabrur dalam hadist di atas adalah jual-beli yang terhindar dari usaha tipu-menipu dan merugikan orang lain.

3.    Ijma’
Ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu, harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.

Mengacu kepada ayat-ayat  Al Qur’an dan hadist, hukum jual beli adalah mubah (boleh). Namun pada situasi tertentu, hukum jual beli itu bisa berubah menjadi sunnah, wajib, haram, dan makruh.

Berikut ini adalah contoh bagaimana hukum jual beli bisa berubah menjadi sunnah, wajib, haram, atau makruh. Jual beli hukumnya sunnah, misalnya dalam jual beli barang yang hukum menggunakan barang yang diperjual-belikan itu sunnah seperti minyak wangi.

Jual beli hukumnya wajib, misalnya jika ada suatu ketika para pedagang menimbun beras, sehingga stok beras sedikit dan mengakibatkan harganya pun melambung tinggi. Maka pemerintah boleh memaksa para pedagang beras untuk menjual beras yang ditimbunnya dengan harga sebelum terjadi pelonjakan harga. Menurut Islam, para pedagang beras tersebut wajib menjual beras yang ditimbun sesuai dengan ketentuan pemerintah.

Jual beli hukumnya haram, misalnya jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat yang diperbolehkan dalam islam, juga mengandung unsur penipuan.

Jual beli hukumnya makruh, apabila barang yang dijual-belikan itu hukumnya makruh  seperti rokok.

BAB II
RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI


Rukun dan syarat jual beli adalah ketentuan-ketentuan dalam jual beli yang harus dipenuhi agar jual belinya sah menurut syara’ (hukum Islam).
a.   Orang yang melaksanakan akad jual beli (penjual dan pembeli).
Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh penjual dan pembeli adalah :
1.    Berakal, jual belinya orang gila atau rusak akalnya dianggap tidak sah.
2.    Baliqh, jual belinya anak kecil yang belum baliqh dihukumi tidak sah. Akan tetapi, jika anak itu sudah mumayyiz (mampu membedakan baik atau buru), dibolehkan melakukan jual beli terhadap barang-barang yang harganya murah seperti : Permen, Kue, Kerupuk.
3.    Berhak menggunakan hartanya. Orang yang tidak berhak menggunakan harta milik orang yang sangat bodoh(idiot) tidak sah jual belinya. Firman Allah ( Q.S. An-Nisa’(4): 5):

b.   Sigat atau Ucapan Ijab dan Kabul.
Ulama fiqh sepakat, bahwa unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan antara penjual dan pembeli. Karena kerelaan itu berada dalam hati, maka harus diwujudkan melalui ucapan ijab (dari pihak penjual) dan kabul  (dari pihak pembeli). Adapun syarat-syarat ijab kabul adalah :
1.    Orang yang mengucap ijab kabul  telah akil baliqh.
2.    Kabul  harus sesuai dengan ijab.
3.    Ijab dan kabul dilakukan dalam suatu majlis.

c.  Barang yang Diperjual-belikan
Barang yang diperjual-belikan harus memenuhi syarat-syarat yang diharuskan, antara lain :
1.   Barang yang diperjual-belikan itu halal.
2.   Barang itu ada manfaatnya.
3.   Barang itu ada ditempat, atau tidakada tapi ada ditempat lain.
4.   Barang itu merupakan milik si penjual atau dibawah kekuasaanya.
5.   Barang itu hendaklah diketahuioleh pihak penjual dan pembeli dengan jelas, baik zatnya, bentuknya dan kadarnya, maupun sifat-sifatnya.

d.  Nilai tukar barang yang dijual (pada zaman modern sampai sekarang ini berupa uang).
Adapun syarat-syarat bagi nilai tukar barang yang dijual itu adalah :
1.   Harga jual disepakati penjual dan pembeli harus jelas jumlahnya.
2.   Nilai tukar barang itu dapat diserahkan pada waktu transaksi jual beli, walaupun secara hukum, misalnya pembayaran menggunakan kartu kredit.
3.   Apabila jual beli dilakukan secara barter atau Al-muqayadah (nilai tukar barang yang dijual bukan berupa uang tetapi berupa uang.          

BAB III
HAL-HAL YANG TERLARANG DALAM JUAL BELI


Jual beli dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain ditinjau dari segi sah atau tidak sah dan terlarang atau tidak terlarang.
1.    Jual beli yang sah dan tidak terlarang yaitu jual beli yang terpenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya (seperti yang telah dijelaskan pada halaman sebelum ini).
2.    Jual beli yang terlarang dan tidak sah (bathil) yaitu jual beli yang salah satu rukun atau syaratnya tidak terpenuhi atau jual beli itu pada dasar dan sifatnya tidak disyariatkan (disesuaikan dengan ajaran islam).
3.    Jual beli yang sah tapi terlarang (fasid). Jual beli ini hukumnya sah, tidak membatalkan akad jual beli, tetapi dilarang oleh Islam karena sebab-sebab lain.
Berkenan dengan jual beli yang dilarang dalam Islam, Wahbah Al-Juhaili meringkasnya sebagai berikut [4]):
Ø  Terlarang Sebab Ahliah (Ahli Akad)
Ulama telah sepakat bahwa jual beli di kategorikan sah apabila dilakukan oleh orang yang baliqh, berakal, dapat memilih. Mereka yang dipandang tidak sah jual belinya sebagai berikut :
a.   Jual beli yang dilakukan oleh orang gila.
b.   Jual beli yang dilakukan oleh anak kecil.
      Terlarang dikarenakan anak kecil belum cukup dewasa untuk mengetahui perihal tentang jual beli.
c.   Jual beli yang dilakukan oleh orang buta.
Jual beli ini terlarang karena ia tidak dapat membedakan barang yang jelek dan barang yang baik.
d.   Jual beli terpaksa
      Terlarang dikarenakan tidak adanya unsur kerelaan antara penjual atau pun pembeli dalam akad.

e.    Jual beli fudhul
Adalah jual beli milik orang lain tanpa seizin pemiliknya.
f.     Jual beli yang terhalang
Terhalang disini artinya karena bangkrut, kebodohan, atau pun sakit.
g.   Jual beli malja’
Adalah jual beli orang yang sedang dalam bahaya, yakni untuk menghindar dari perbuatan zalim.

Ø  Terlarang Sebab Shigat
Jual beli yang antara ijab dan kabulnya tidak ada kesesuaian maka dipandang tidak sah. Beberapa jual beli yang termasuk terlarang sebab shiqat sebagai berikut :
a.   Jual beli Mu’athah
Jual beli yang telah disepakati oleh pihak akad, berkenaan dengan barang maupun harganya, tetapi tidak memakai ijab kabul.
b.   Jual beli melalui surat atau melalui utusan
      Dikarenakan kabul yang melebihi tempat, akad tersebut dipandang tidak sah, sperti surat tidak sampai ke tangan orang yang dimaksudkan.
c.   Jual beli dengan isyarat atau tulisan
Apabila isyarat dan tulisan tidak dipahami dan tulisannya jelek (tidak dapat dibaca), maka akad tidak sah.
d.   Jual beli barang yang tidak ada ditempat akad
      Terlarang karena tidak memenuhi syarat in’iqad  (terjadinya akad).
e.    Jual beli tidak bersesuaian antara ijab dan kabul.
f.     Jual beli munjiz
Adalah yang dikaitkan dengan suatu syarat atau ditangguhkan pada waktu yang akan datang.

Ø  Terlarang Sebab Ma’qud Alaih (Barang jualan)
Ma’qud alaih adalah harta yang dijadikan alat pertukaran oleh orang yang akad, yang biasa disebut mabi ’  (barang jualan) dan harga. Tetapi ada beberapa masalah yang disepakati oleh sebagian ulama, tetapi diperselisihkan, antara lain :

a.   Jual beli benda yang tidak ada atau dikhwatirkan tidak ada
b.   Jual beli yang tidak dapat diserahkan
      Contohnya jual beli burung yang ada di udara, dan ikan yang ada di dalam air tidak berdasarkan ketetapan syara’.
c.   Jual beli gharar
      Adalah jual beli barang yang menganung unsur menipu (gharar).
d.   Jual beli barang yang najis dan yang terkena najis
      Contohnya : Jual beli bangkai, babi, dll.
e.    Jual beli air
f.     Jual beli barang yang tidak jelas (majhul )
Terlarang karenakan akan mendatangkan pertentangan di antara manusia.
g.    Jual beli barang yang tidak ada di tempat akad (gaib), tidak dapat dilihat
h.    Jual beli sesuatu sebelum di pegang
i.     Jual beli buah-buahan atau tumbuhan
Apabila belum terdapat buah, disepakati tidak ada akad. Setelah ada  buah, tetapi belum matang, akadnya fasid.

Ø  Terlarang Sebab Syara’
Jenis jual beli yang dipermasalahkan sebab syara’ nya diantaranya adalah :
a.   Jual beli riba
b.   Jual beli dengan uang dari barang yag diharamkan
      Contohnya jual beli khamar, anjing, bangkai.
c.   Jual beli barang dari hasil pencegatan barang
      Yakni mencegat pedagang dalam perjalanannya menuju tempat yang di tuju sehingga orang yang mencegat barang itu mendapatkan keuntungan.
d.   Jual beli waktu adzan jum’at
      Terlarang dikarena bagi laki-laki yang melakukan transaksi jual beli dapat mengganggukan aktifitas kewajibannya sebagai muslim dalam mengerjakan shalat jum’at.
e.    Jual beli anggur untuk dijadikan khamar
f.     Jual beli barang yang sedang dibeli oleh orang lain
g.    Jual beli hewan ternak yang masih dikandung oleh induknya.

BAB IV
KHIYAR

A.   Pengertian
Menurut Ulama Fiqh[5]), khiyar adalah “Suatu keadaan yang menyebabkan orang yang akad (aqid) memiliki hak untuk memutuskan akadnya, yakni menjadikan atau membatalkannya jika khiyar tersebut berupa khiyar syarat, ‘aib atau ru’yah, atau hendaklah memilih di antara dua barang jika khiyar ta’yin.”

Khiyar adalah hak memilih bagi si penjual dan si pembeli untuk meneruskan jual belinya atau membatalkan karena adanya sesuatu hal.

B.   Macam-macam khiyar yang kita kenal :
1.   Khiyar syarat
Ø  Pengertian
Menurut Ulama fiqh5), Khiyar syarat adalah “Suatu keadaan yang membolehkan salah seorang yang akad atau masing-masing yang akad atau selain kedua pihak yang akad memiliki hak atas pembatalan atau penetapan akad selama waktu yang diientukan.”  Contohnya :  si penjual berkata kepada si pembeli, “Saya jual barang ini kepadamu seharga Rp.100.000,- dengan syarat boleh khiyar selama tiga hari tiga malam.”
Ø  khiyar masyru’ (disyariatkan) dan khiyar rusak
1.    khiyar masyru’ (disyariatkan)
adalah khiyar yang ditetapkan batasan waktunya. Contohnya : si penjual berkata kepada si pembeli, “Saya jual barang ini kepadamu seharga Rp.100.000,- dengan syarat boleh khiyar selama tiga hari tiga malam.”

2.   khiyar rusak
      khiyar rusak yaitu khiyar yang batasan waktunya tidak diketahui atau rusak, dan perbuatan ini mengandung unsur jahalah (ketidak jelasan. Contohnya : “Saya beli barang ini dengan syarat saya khiyar selamanya.”

Ø  Batasan khiyar masyru’
Adapun batas khiyar itu adalah tidak boleh lebih dari tiga hari. Dan beberapa dari para ulama berpendapat bahwa[6]) khiyar yang melebihi tiga hari membatalkan jual beli, sedangkan bila kurang dari tiga hari adalah rukhshah (keringan) bagi penjual.

2.   Khiyar majlis
Ø  Pengertian
Menurut Ulama fiqh[7]), “Hak bagi semua pihak yang melakukan akad untuk membatalkan akad selagi masih berada di tempat akad dan kedua pihak belum berpisah. Keduanya saling memilih sehingga muncul kelaziman dalam akad.”

BAB V
JUAL BELI AS-SALAM


A.   Pengertian
As-salam atau As-shalaf adalah pembayaran di muka dan penyerahan barang di kemudian hari, yang terdefinisi oleh para fuqaha sebagai ”akad jual beli atas sesuatu yang disebutkan kriterianya dalam akad, dan yang dijanjikan akan diserahkan pada waktunya yang ditentukan nanti kepada pembeli, dengan bayaran yang diserahkan pada saat transaksi”. Firman Allah Swt dalam surat al-baqarah  ayat 282 yang membolehkan transaksi ini :
=
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai umtuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”(Q.S Al-Baqarah (2) :282)

B.   Syarat sah transaksi model salam
1.      Adanya kepastian sifat-sifat barang yang ditransaksikan.
2.      Menyebut jenis dan macam barang yang ditransaksikan dengan akad salam.
3.      Disebutkan ukuran barang yang ditransaksikan dengan akad salam itu.
4.      Disebutkan waktu penyerahan barang.
5.      Agar barang yang ditransakasikan salam itu biasanya tersedia pada waktu penyerahan barang seperti yang ditetapkan, sehingga sapat diserahkan pada waktunya.
6.      Agar harga pembeliannya sudah diterima secara sempurna dan diketahui jumlahnya pada saat akad/transaksi.
7.      Agar barang yang ditransaksikan itu bukan sesuatu yang tertentu, tapi hendaknya ia bentuk semacam utang yang tertanggung.
Transaksi melalui hal seperti ini dibolehkan karena salah satu kemudahan yang diberikan oleh syarat islam dan sikap toleransinya. karena juga dalam muamalah ini terdapat kemudahan bagi manusia ini terdapat kemudahan bagi manusia dan mewujudkan kemaslahatan mereka, sambil bersihnya hal itu dari riba dan seluruh hal yang dilarang. Maka, segala puji bagi Allah atas segala kemudahan yang dianugerahkan-Nya.

BAB VI
PENUTUP


A.  Kesimpulan
Sesuatu hal yang sering kita lupakan menjadi hal yang dapat merusak nilai amalan yang kita lakukan jual beli, jadi hal upaya tentang penulisan ini dilakukan untuk memberikan informasi tentang pengertian, dasar hukum jual beli, rukun dan syarat jual beli, hal yang terlarang dalam jual beli, khiyar, dan jual beli As-salam. Agar terciptanya lingkungan ekonomi perdagangan islam yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itu penulis menyimpulkan bahwa jual beli islam adalah suatu kegiatan yang bersifat kepentingan umum, juga menjadi tolak ukur untuk mensejahterakan kehidupan rakyat terutama dalam bidang perekonomian. Karena manusia ini adalah makhluk sosial, jadi diperlukan kegiatan jual beli ini juga seluk beluk mengenai jual beli islam ini sudah dapat dilihat dalam bab-bab makalah ini.


B.  Saran
Penulisan makalah ini menunjukkan hal yang berkaitan dengan apa-apa saja mengenai hukum-hukum, tata cara pelaksanaan yang terkait tentang hubungan jual beli yang baik antara penjual juga pembeli, sehingga dapat mendorong munculnya penulisan makalah yang sejenis dalam pemberi informasi yang lebih baik lagi tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan jual beli.

DAFTAR PUSTAKA


Rahmat Syafe’i MA, Prof., Dr., 2004, Fiqih Muamalah, Pustaka Setia, Bandung.
Wahbah Al-Juhaili, 1989, Al-fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Dar Al-Fikr.
Rambe, Nawawiah, Drs, 1994, Fiqih Islam, Duta Pahala, Jakarta.
Syamsuri, Drs, H., 2005, Pendidikan Agama Islam SMA Jilid 2 Untuk Kelas XI, Erlangga, Jakarta.




[1]  Alaudin Al-Kasyani, Badai’ Ash-Shanai’fi Tartib Asy-Syarai’. Juz V, Hlm. 133
[2] )  Muhammad Asy-Syarbini, Mugni Al-Muhtaj. Juz II, hlm. 2
[3] )  Ibnu Qudamah, Al-Mugni. Juz III, hlm. 559
[4] )  Ibid, hlm. 500-515
[5] ) Wahbah Al-Juhaili,  Al-Fiqh Al-Islami Wa adillatuhu, juz IV, hlm. 250
[6] )   Al-Kasani, Op.Cit., juz V, hlm. 174
[7] )  Al-Juahaili, Op.Cit., juz IV, hlm. 250

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar